Hikmah Dibalik Ujian dan Musibah
Hidup di dunia tidak akan pernah lepas dari ujian dan musibah. Allah SWT berfirman: "Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan 'Kami telah beriman', dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2). Ayat ini menegaskan bahwa ujian adalah sunnatullah yang pasti dialami oleh setiap orang beriman.
Masalahnya, dalam Islam ujian itu bukan berarti Allah marah. Justru kadang itu tandang sayang. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka ia akan diuji dengan cobaan." (HR. Bukhari). Ini membalikkan perspektif kita tentang musibah — bukan azab, melainkan tanda kebaikan.
Pertama, ujian itu mengingatkan kita sama Allah. Waktu hidup mulus, kita sering lupa. Pas ada masalah, baru deh inget.
Kedua, ujian menghapus dosa. Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang muslim tertimpa rasa letih, sakit, khawatir, sedih, gangguan, atau kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya karenanya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Ketiga, ujian ningkatin derajat. Para nabi itu manusia yang paling berat ujiannya, dan mereka juga yang paling tinggi derajatnya. Imam Syafi'i bilang: ujian itu tangga menuju derajat tinggi. Makin berat, makin tinggi.
Keempat, ujian ngelatih kesabaran. Allah janjiin pahala tanpa batas buat yang sabar: "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10).
Kalau musibah datang, jangan langsung putus asa. Allah nggak ngasih beban di luar kemampuan kita. Ingat: di balik susah pasti ada gampang — "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5).
Semoga ujian apa pun yang kita hadapi sekarang, bikin kita makin dekat sama Allah.
— BosoIndo —
Komentar