Pengajian Gus Baha : Menjaga Keikhlasan dalam Bekerja

Dalam pemikiran Gus Baha, menjaga keikhlasan dalam bekerja sangat berkaitan erat dengan melatih niat, mengatur orientasi hidup, serta mengubah cara pandang kita terhadap Allah. Berikut adalah cara menjaga keikhlasan berdasarkan penjelasan beliau: 

  1. Meluruskan Orientasi Niat Semata untuk Allah dan Rasul Gus Baha menekankan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan akan dicatat sesuai dengan orientasinya, sebagaimana konsep hijrah yaitu meninggalkan yang buruk menuju yang lebih baik hanya untuk Allah dan Rasul . Jika seseorang bekerja hanya dengan orientasi ingin hidup mapan, sejahtera, atau memiliki rumah di berbagai daerah, maka keinginan itulah yang akan dicatat sebagai tujuan hidupnya . Gus Baha mengingatkan betapa ngerinya jika kelak kita bertemu dengan Allah dengan membawa status sebagai "pencari kemapanan" duniawi, dan bukannya "pencari Allah dan Rasul-Nya" . Oleh karena itu, niat dalam bekerja harus dikembalikan untuk mencari rida Allah. 
  1. Melatih Keikhlasan Layaknya Mengakui Sebuah Fakta Bagi Gus Baha, ikhlas itu sebenarnya sangat mudah dan hanya perlu dibiasakan . Beliau menganalogikan keikhlasan dengan cara kita melihat kenyataan hidup sehari-hari: kita rela menyatakan bahwa tembok itu putih atau peci itu hitam dalam waktu yang lama tanpa menuntut bayaran atau gaji . Seharusnya, saat kita menyembah Allah atau melakukan kebaikan, kita juga bisa seikhlas itu tanpa selalu menuntut imbalan surga . Allah tetaplah Tuhan yang Maha Hebat meskipun Dia tidak menciptakan surga dan neraka, sehingga kita harus melatih diri berbuat baik murni karena ketundukan, bukan sekadar transaksi untuk mencari imbalan surga . 
  1. Mencari Rida Allah Saat Ini juga (Tidak Menunda Hati) Menurut sudut pandang tasawuf yang dijelaskan Gus Baha, Allah itu sudah ada sejak dulu hingga sekarang . Jika Allah sudah ada sekarang, maka rida-Nya juga bisa didapatkan saat ini secara langsung (cash), tidak perlu menunggu di akhirat nanti . Bekerja dan beribadah dengan ikhlas berarti beramal untuk mendapatkan rida Allah saat ini juga, bukan sekadar menghindari neraka atau mencari kenikmatan surga sebagai tujuan akhir . Gus Baha bahkan mengkritik cara beragama yang amatiran, di mana ibadah dianggap sebagai beban dan surga semata-mata dilihat sebagai tempat bebas untuk makan enak tanpa perlu salat lagi . 4. Menanamkan Cita-Cita Spiritual di Tengah Kesibukan Duniawi Untuk menjaga agar hati tetap tulus dan berorientasi pada kebaikan, Gus Baha menyarankan agar kita selalu memiliki cita-cita spiritual (seperti niat belajar agama atau menghafalkan Al-Qur'an), sesibuk apa pun pekerjaan kita . Beliau mencontohkan ulama terdahulu yang menyuruh para pekerja atau orang sepuh menghafalkan Al-Qur'an meskipun mereka mungkin tidak akan hafal-hafal . Tujuannya adalah agar jika suatu saat maut menjemput, orang tersebut mati dengan status sedang berusaha mencari rida Allah (menuntut ilmu) . Hal ini jauh lebih mulia daripada mati dengan isi kepala yang dipenuhi detail hitung-hitungan urusan dunia, seperti memikirkan arsitek bangunan atau mengejar kekayaan semata . Pilihlah status kematian sesuai komitmen kebaikan, agar memori kehidupan kita di hadapan Allah tidak mempermalukan diri sendiri. (Sumber : Video Youtube - https://youtu.be/BePCGolu9Co?si=WoaNYzuMYuEl5Oj3)

Comments

Popular posts from this blog

Adab dan Cara Berzikir

Ukuran Mud dan Sha’